TENTANG YUSUF WIBISONO
YusufW & AsliYW: Redaksi IlmuIman.Net

Salam. Semoga anda semuanya dikaruniai kebaikan dan kebahagiaan. Mohon ijin anda, di sini saya akan memperkenalkan diri.

Saya, Yusuf Wibisono, menggunakan beberapa nickname di situs ilmuiman.net, yaitu: (1) YusufW untuk cerita-cerita yang aslinya sudah ditulis di masa lampau, tahun 2000-an ke belakang. (2) AsliYW untuk cerita-cerita generasi setelah itu yang asli karya sendiri, dan (3) Adaptasi (statis) atau Dyna (dinamis) untuk cerita-cerita yang idenya bukan asli dari diri sendiri, tapi terinspirasi dari cerita orang lain, adaptasi, terjemahan, dan sebagainya. Sekalian saya juga redaksi/administrator dari situs ilmuiman.net.

Bagi anda yang ingin lebih mengenal saya,... daripada saya uraikan daftar riwayat hidup, dan lalu anda malah menawari pekerjaan yang enggak-enggak, atau anda menerbitkan surat kelakuan baik, akan lebih baik kalau saya ceritakan satu cerita kecil yang berkaitan dengan hidup saya.

Hari ini, per tanggal 30 November 2007, alhamdulillah, saya berada dalam keadaan yang luar biasa, tidak kurang suatu apa, namun pada sekian tahun yang lalu, di akhir tahun 1996, saya berada dalam keadaan ancur-ancuran. Semulanya mungkin flu, tapi karena efek antibiotik dari dokter, tanpa saya sadari, saya terkena gangguan pencernaan sebangsa maag. Akibatnya, badan terasa tidak nyaman dan bahkan untuk sekedar berdiri lima menit saja saya tidak sanggup. Singkat cerita, saya ke rumah sakit, dan gilanya: dokternya bilang bahwa saya tidak apa-apa dan boleh pulang! Bagaimana caranya pulang? Bahkan saya berdiri pun tidak bisa lagi, berasa ingin pingsan. Saya lalu diopname dengan diagnosis: vertigo!

Adalah mengherankan, seorang dokter spesialis tidak bisa mendiagnosis adanya maag itu. Berkat diagnosis ngawur, maka yang menangani saya adalah dokter saraf, dokter tht, dan bukannya sembuh, malah sepanjang malam-malam sekitar tahun baru 1997 saya tidak bisa tidur barang sekejap. Sampai kemudian ibu saya datang, dari Jakarta, menjenguk ke Bandung. Ibu saya adalah penderita maag yang awalnya dari salah obat juga (tahun 1985 didiagnosis malaria! padahal bukan). Teringat pengalaman buruknya, saya lantas diberi saran. Ibu saya bukan dokter dan juga bukan dukun, baik dukun pijet maupun dukun bayi. Ibu saya bilang: jangan diminum semua obat dari dokter dan minumlah obat maag! Berkat itu, dua hari kemudian saya pulang; sambil tim dokter yang sok ahli itu, terdiri dari dokter syarat, tht, dan internis, tidak tahu menahu bagaimana saya bisa berdiri lagi, dan pulang. Mereka bahkan memberi rujukan untuk periksa tht yang lebih komprehensif! Edan betul.

Ini pelajaran bagi semua orang. Belakangan saya tahu juga, tipikalnya, dokter-dokter kita menyepelekan efek samping pada pencernaan dari obat-obat yang mereka berikan. Soal ini, pasien harus tahu sendiri. Belakangan, saya sempat 'membebaskan' beberapa orang teman dari rumah sakit yang mengalami kondisi seperti saya itu (less or more). Walaupun begitu, saya sempat merasa kecolongan juga. Seorang kakak ipar saya, ada yang meninggal karena pendarahan lambung. Padahal saat itu almarhum sedang ditreatment di rumah sakit karena gangguan jantung oleh dokter ahli jantung! Innalillahi, ironi yang sama terulang lagi.

Kalau anda sendiri pernah didiagnosis vertigo, cobalah dulu tinggalkan obat aneh-aneh, dan minumlah obat maag. Pelajaran lain, daripada anda mendengarkan dokter yang tidak berpengalaman, kadang lebih berharga mendengarkan pasien yang berpengalaman. ;-) Saya punya seorang adik dokter spesialis untuk bidang patologi klinik, tapi rasanya, untuk hal-hal detil berkaitan dengan sakit maag itu, mestinya dia harus tanya saya yang sudah 'pengalaman' dari tahun 1997, atau bahkan ibu saya yang sudah 'pengalaman' bahkan dari 1985.

Masalahnya, apakah betul sepulangnya dari rumah sakit itu saya benar-benar sembuh? Ini panjang ceritanya. Sudah kadung salah obat, pencernaan sudah telanjur cacat, repot urusannya. Kalau anda sering kumat-kumatan maag, atau belum benar-benar sembuh dari sakit maag, we are at the same club! Kita senasib, dan anda pasti tahu persis apa yang saya maksud.

Setelah mencoba seribu satu treatment, beberapa dokter, tusuk jarum, alternatif, mengeksplorasi internet, menyesuaikan gaya hidup, mengatur-atur pola makan, lincek-lincek di depan rumah, pencilakan, pecicilan... saya baru terasa agak tuntas mengatasi dampak salah diagnosis itu sekitar tahun 2003-2004-an yang lalu, alias 8 tahunan setelah kejadian. Sedikit catatan, lincek-lincek di depan rumah dan seterusnya itu tadi, dalam Bahasa Indonesianya adalah olah raga.

Dengan semangat pantang menyerah itu, sekarang, alhamdulillah, saya sudah tidak sering kumat-kumatan maag lagi, atau setidaknya, kumat yang betul-betul bikin teler seperti dulu, sudah lama sekali tidak mengalami. Kumat gila juga tidak! ;-) Walaupun begitu, karena sudah demikian lamanya urusan itu menyatu dengan hidup saya, maka kemana pun saya pergi, hampir selalu bersama saya, saya membawa obat maag. Promag, Waisan, Rantin, dan semacamnya. Obat itu sekarang sering koklok karena cuma dibawa-bawa doang tanpa dikonsumsi, tapi sesekali, obat itu amat bermanfaat untuk menolong orang. Bagaimana pun, di dunia ini orang yang kumat-kumatan maag masih ada, dan banyak.